TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 6
ILMU SOSIAL DASAR
NAMA
: Achmad Wahyu Nuryawan
NPM : 10116069
KELAS :
1KA08
I.
Masyarakat Perkotaan, Aspek-Aspek Positif dan
Negatif
A.
Pengertian
Masyarakat
Masyarakat
(sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang
membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian
besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok
tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa
Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan
hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas
yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah
masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam
satu komunitas yang teratur.
B. Masyarakat
Perkotaan
Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan
pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan
masyarakat pedesaan. Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu
:
Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan
kehidupan keagamaan di desa.Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri
tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai
batas-batas yang nyata . Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan
pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa. Interaksi
yang terjal lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada
faktor pribadi. Pembagian waktu
yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota
biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
C.
Perbedaan
Antara Desa dan Kota
1. Jumlah dan kepadatan penduduk.
2. Stratifikasi sosial.
3. Pola interaksi sosial.
4. Lingkungan hidup.
5. Corak kehidupan sosial.
6. Solidaritas sosial.
7. Mata pencaharian.
8. Mobilitas sosial .
2. Stratifikasi sosial.
3. Pola interaksi sosial.
4. Lingkungan hidup.
5. Corak kehidupan sosial.
6. Solidaritas sosial.
7. Mata pencaharian.
8. Mobilitas sosial .
II.
Hubungan Desa dan Kota
a. Masyarakat tersebut bukanlah 2 komunitas yg berbeda.
b. Bersifat ketergantungan.
c. Kota tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan.
d. Desa juga merupakan tenaga kasar pada jenis pekerjaan tertentu.
e. Sebaliknya, kota menghasilkan barang dan jasa yg dibutuhkan desa.
f. Peningkatan penduduk tanpa diimbangi perluasan kesempatan kerja berakibat kepadatan.
b. Bersifat ketergantungan.
c. Kota tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan.
d. Desa juga merupakan tenaga kasar pada jenis pekerjaan tertentu.
e. Sebaliknya, kota menghasilkan barang dan jasa yg dibutuhkan desa.
f. Peningkatan penduduk tanpa diimbangi perluasan kesempatan kerja berakibat kepadatan.
g. Mereka kelompok para penganggur di desa.
III.
Aspek Positif dan Negatif
Ø Konflik ( Pertengkaran)
Ramalan orang kota bahwa masyarakat pedesaan adalah
masyarakat yang tenang dan harmonis itu memang tidak sesuai dengan kenyataan
sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan adalah penuh masalah dan banyak
ketegangan. Karena setiap hari mereka yang selalu berdekatan dengan orang-orang
tetangganya secara terus-menerus dan hal ini menyebabkan kesempatan untuk
bertengkar amat banyak sehingga kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa
peledakan dari ketegangan amat banyak dan sering terjadi.
Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan sebagainya.
Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan sebagainya.
Ø Kontraversi (pertentangan)
Pertentangan ini bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep
kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna
(black magic). Para ahli hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi
(pertentangan) ini dari sudut kebiasaan masyarakat.
Ø Kompetisi (Persiapan)
Sesuai dengan kodratnya masyarakat pedesaan adalah
manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasanya yang antara
lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu
maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif. Positif bila
persaingan wujudnya saling meningkatkan usaha untuk meningkatkan prestasi dan
produksi atau output (hasil). Sebaliknya yang negatif bila persaingan ini hanya
berhenti pada sifat iri, yang tidak mau berusaha sehingga kadang-kadang hanya
melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal ini kurang ada manfaatnya sebaliknya
menambah ketegangan dalam masyarakat.
Ø Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan
Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap
mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi jelas masyarakat
pedesaan bukanlah masyarakat yang senang diam-diam tanpa aktivitas, tanpa
adanya suatu kegiatan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi apabila orang
berpendapat bahwa orang desa didorong untuk bekerja lebih keras, maka hal ini
tidaklah mendapat sambutan yang sangat dari para ahli. Karena pada umumnya
masyarakat sudah bekerja keras.
IV.
Masyarakat Pedesaan
A.
Pengertian
Desa
Desa merupakan
perwujudan atau kesatuan geografis, sosial, ekonomi, politik dan kulural yang
terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale balik
dengan daerah lain. Pola keruangan desa bersifat agraris yang sebagian atau
seluruhnya terisolasi dari kota. Tempat kediaman penduduk mencerminkan tingkat
penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, seperti iklim, tanah, topografi,
tata air, sumber alam, dan lain-lain. Tingkat penyesuaian penduduk desa
terjhadap lingkungan alam bergantung faktor ekonomi, social, pendidikan dan
kebudayaan.
B. Hakikat
dan Sifat Masyarakat pedesaan
Masyarakat pedesaan mempunyai sifat yang
kaku tapi sangatlah ramah. Biasanya
adat dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat pedesaan masih kaku, tetapi asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayaan maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, sebagai PRT atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berpikir maju dan keluar dari hakikat itu.
adat dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat pedesaan masih kaku, tetapi asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayaan maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, sebagai PRT atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berpikir maju dan keluar dari hakikat itu.
C. Sistem Nilai Budaya Petani
Indonesia
Sejarah perjuangan hidup umat manusia hanya akan bermuara pada dua latar
belakangbudaya, budaya petani (bertani, berternak dan menangkap ikan sebagai
nelayan) dan budayapedagang. Indonesia, secara sadar mentransformasi budaya
petani ke dalam budaya industri. Dan budaya itu pula yang menjiwai budaya
industrinya. Apa dan bagaimana “budaya petani” dan “budaya pedagang” dapat
tergambar dalam kisah sederhana.
D. Unsur – unsur Desa
–
Daerah
– Penduduk
– Corak kehidupan
– Unsur gotong royong
– Penduduk
– Corak kehidupan
– Unsur gotong royong
F. Fungsi Desa
- Desa sebagai hinterland (pemasok kebutuhan bagi
kota).
- Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan.
- Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan.
- Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota.
- Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia.
- Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia.
V.
Urbanisasi dan urbanisme
A.
Urbanisasi
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius
bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota
akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah
peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan
jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan,
penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus
segera dicarikan jalan keluarnya.
Perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni migrasi penduduk
dan mobilitas penduduk. Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari desa
ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota, sedangkan Mobilitas Penduduk
berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara saja atau tidak
menetap. Untuk mendapatkan
suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus
mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa,
impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lainsebagainya.
ü Faktor penarik
1.
Kehidupan kota yang lebih modern
2.
Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
3.
Banyak lapangan pekerjaan di kota
4.
Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik
dan berkualitas
ü Faktor pendorong
1.
Lahan pertanian semakin sempit
2.
Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3.
Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan
di desa
4.
Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5.
Diusir dari desa asal
6.
Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
ü Keuntungan urbanisasi
1.
Memoderenisasikan warga desa
2.
Menambah pengetahuan warga desa
3.
Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu
daerah
4.
Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa
ü Akibat urbanisasi
1.
Terbentuknya suburb tempat-tempat
pemukiman baru dipinggiran kota
2.
Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang
tidak mempunyai pekerjaan tetap)
3.
Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi
persyaratan kesehatan
4.
Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan
sosial dan criminal
B.
Urbanisme
Secara umum, urbanisme adalah fokus
pad kota dan daerah perkotaan, geografi, ekonomi, politik, karakteristik
sosial, serta efek pada, dan disebabkan oleh, lingkungan dibangun.
“Urbanisme”
dalam arti lebih luas juga akan mencakup studi tentang interaksi antara kota
dan pedalaman pedesaan. Tidak ada kota bisa eksis tanpa pedalaman untuk memasok
itu, tetapi, karena teknologi komunikasi, pedalaman ini mungkin kurang mudah
untuk mengidentifikasi dari itu di pra-industri, masyarakat agraris, dan
selanjutnya konsepsi tentang bagaimana pedalaman tersebut berhubungan dengan kota
mungkin perubahan sepanjang sejarah. Di Kekaisaran Romawi dan Yunani kuno),
misalnya, municipium dan polis dianggap terdiri dari kedua pusat “kota” dan
pedalaman, dengan mana mereka membentuk satu kesatuan sosial, politik dan
ekonomi terpadu.
Kata ini urbanisme juga digunakan sebagai pelengkap
kualitatif dengan deskripsi bentuk berbagai perkotaan dan pedesaan, yakni,
urbanisme informal, urbanisme baru, urbanisme mandiri, urbanisme berkelanjutan,
urbanisme terpusat atau desentralisasi, urbanisme neo-tradisional, dan
urbanisme transisi.
VI.
Perbedaan masyarakat pedesaan dengan
masyarakat perkotaan.
1.
Lingkungan
Umum Dan Orientasi Terhadap Alam.
Lingkungan hidup pada
umumnya merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk
hidup, termasuk manusia dan prilakunya yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pada dasar suatu lingkungan
umum itu terdapat masyarakat yang saling berinteraksi satu sama lainnya dan
setiap manusia itu saling membutuhkan satu sama lainya jadi setiap manusia yang
tinggal di lingkungan manapun mau itu di desa dan di kota pasti tidak biza
hidup sendiri tanpa adanya orang lain.Orientasi terhadap alam tentang
pelestarian lingkungan diperdesa dan di kota, bila terjaga dengan baik serta
terawat akan menguntungkan bagi kita semua akan tetapi bila sebaliknya kita
tidak menjaga dan merawatnya maka kita sendiri juga yang akan mendapatkan
imbasnya.
2.
Pekerjaan
Atau Mata Pencarian.
Melakukan suatu pekerjaan merupakan salah satu cara untuk
mendapatkan nafkah. Arti pekerjaan ini tidak terbatas pada tugas-tugas kantor.
Aktor/aktris, seniman/seniwati, olahragawan, guru, tukang, dan banyak pekerjaan
yang lain memandang pekerjaan mereka sebagai jalan untuk membuktikan hidup
mereka. Karena itu kita hidup di dunia ini memerlukan biaya yg tidak sedikit
maka dari itu setiap manusia di dunia ini untuk mendapatkan biaya yang tidak
sedikit itu harus berkerja dengan keras. Kebanyakan matapencaharian masyarakat
pedesaan yaitu bertani, tetapi matapencaharian berdagang merupakan pekerjaan
sekunder dari pekerjaan yang nonpertanian. Dimasyarakat perkotaan
matapencaharian cenderung menjadi terspesialisasi dan spesialisasi itu bias di
kembangkan menjadi manager suatu perusahaan,ketua atau pimpinan suatu birokrasi.
3.
Ukuran
Komunitas.
Perkembangan
ukuran komunitas dan individu yang dapat membantu masyarakat untuk
mengembangkan daya hidup yang dapat memantapkan dan meningkatkan keadaan
sehat.komunitas pedesaaan biasanya lebih kecil deri pada komunitas perkotaan
dalam mata pencaharian dibidang pertanian, imbangan tanah pada manusia cukup
tinggi bila dibandingkan dengan industri dan akibatnya daerah pedesaan
mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya. Tanah pertanian luas
bervariasi dan bergantung pada usaha pertaniannuya, tanah yang cukup luasnya
sanggup menampung usaha tani dan usaha ternak sesuai dengan kemampuannya,oleh
sebab itu komunitas pedesaan lebih kecil dari pada komunitas perkotaan.
4.
Kepadatan
Penduduk.
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila di bandingkan
dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya
berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri, Contohnya dalamperubahan
permukiman, dari penghuni satu keluarga (individual family) menjadi pembangunan
multikeluarga dengan flat dan apartemen seperti yang terjadi di kota.
5.
Homogenitas
Dan Heterogenitas.
Homogenitas atau persamaan dalam
ciri-ciri social dalam psikologi, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan
prilaku sering Nampak dalam masyarakat pedesaan bila di bandingkan dengan
masyarakat perkotaan. Kampong-kampung bagian dari masyarakat desa mengenai
minat dan pekerjaan hampir sama, sehingga kontak tatap muka lebih sering dan di
kota sebaliknya. Penduduk heterogen terdiri dari orang-orang dengan macam-macam
subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian. Sebagai contoh
dalam prilaku dan juga bahasa penduduk di kota lebih heterogen. Hal ini ada
karena adanya daya tarik dari mata pencaharian, pendidikan, komunikasi, dan
transportasi,menyebabkan kota menarik orang-orang dari berbagai kelompok etnis
untuk berkumpul di kota.
6.
Diferensiasi
Sosial.
Keadaan
heterogen dari penduduk kota berindukasi pentingnya derajat yang tinggi di
dalam diferensiasi sosial. Fasilitas kota, hal-hal yang berguna pendidikan,
rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan (tempat tinggal) menyebabkan
terorganisasinya berbagai keperluan, adanya pembagian pekerjaan dan adanya
saling membutuhkan serta saling tergantung. Kenyataan ini bertentangan dengan
bagian-bagian kehidupan di masyarakat perdesaan. Tingkat homogenitas alami ini
cukup tinggi, dan relative berdiri sendiri dengan derajat yang rendah dari
diferensiasi social.
7.
Pelampiasan
Social.
Kelas
sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti “piramida
social”, yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida. Kelas
menengah ada di antara dua tingkat kelas eksteren dari masyarakat.
Ada
beberapa perbedaan “pelampiasan sosial tak resmi” ini antara masyarakat desa
dan masyarakat kota:
1.
Pada
masyarakat kota aspek kehidupan pekerjaan, ekonomi, atau sosial-politik lebih
banyak pelampiasannya di bandingkan masyarakat desa.
2.
Pada
masyarakat desa kesenjangan (gap) antara klas eksteren dalam piramida sosial
tidak terlalu besar, sedangkan pada masyarakat kota jarak antara kelas eksteren
yang kaya dan miskin cukup besar. Di desa tingkatnya hanya kaya dan miskin
saja.
3.
Pada
umumnya masyarakat pedesaan canderung pada keadaan kelas menengah menurut
ukuran desa, sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser ke kota.
Kepindahan orang miskin ini di disebabkan tidak mempunyai tanah, mencari
pekerjaan di kota, atau ikut transmigrasi.
4.
Ketentuan
kasta dan contoh-contoh prilaku yang di butuhkan sistem kasta tidak banyak
terdapat, tetapi di Indonesia, khususnya di bali ada ketentian kelas ini. Dalam
kitab-kitab suci orang bali, masyarakat terbagi ke dalam empat lapisan yaitu
brahmana, satria, waisya, dan sudra. Gambaran sistem klas itu berlaku hanya
bagi desa yang masih asli. Istilah dari daerah ke daerah berbeda dan kriteria
bersekitar milik tanah pertanian dan tanah perkarangan dan juga rumah,
studi-studi yang menggambarkan pelmpiasan di daerah perkotaan masih sedikit
sekali tetapi pada umumnya kriteria yang di terapkan adalah pendapatan dan
kekayaan.
8.
Mobilitas
Sosial.
Mobilitas
sosial berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial
lainya mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke perkerjaan lainnya, mobilitas
teritorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau dari daerah desa
ke kota sendiri. Terjadinya peristiwa mobilitas sosial demikian disebabkan oleh
penduduk kota yang heterogen, terkonsentrasinya kelembagaan-kelembagaan saling
tergantungnya organisasi-organisasi dan tingginya diferensiasi sosial maka
mobilitas sering terjadi di kota dibandingkan dengan daerah pedesaan. Hal lain,
mobilitas atau perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) lebih banyak
ketimbang dari kota ke desa. Tipe desa pertanian dan kebiasaan pindah
mempengaruhi mobilitas sosial seperti perpindahaan yang berkaitan dengan
mencari kerja ada yang menetap atau tinggal sementara, sesuai dengan musim dan
waktu mengolah pertanian. Apabila dibandingkan penduduk kotab lebih dinamis dan
mobilitasnya cukup tinggi. Kesemuanya berbeda hal waktu dan arah mobilitasnya.
Pergerakan dapat terjadi secara bertahap, baik arahnya secara horizontal
ataupun vertical. Kebiasaan ini di desa kurang terlihat, dan di kota lebih
memungkinkan dengan waktu yang relative singkat.
9.
Interaksi
Sosial.
Tipe
interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek
kualitasnya. Perbedaan yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan
dan perkotaan, di antaranya:
1.
Masyarakat
pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka
kontak pribadi perindividu lebih sedikit demikian pula kontak melalui radio,
televisi, majalah, poster, Koran dan media lain yang lebih sophisticated.
2.
Kontak
sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualilatif. Penduduk kota lebih
sering kontak tetapi cenderung formal sepintas lalu, dan tidak bersifat
pribadi, tepapi melalui tugas atau kepentingan yang lain, didesa kontak social
lebih banyak tatap muka, ramah tamah, dan pribadi. Di kota kontak social lebih
tersebar di daerah luas melalui perdagangan, perusahaan, industry, pendidikan,
agama, DLL.
10.
Pengawasan
Sosial.
Tekanan sosial oleh masyarakat di
pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah tamah
(informal) dan keadaan masyarakatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap
norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal, dan
nantinya daapat berarti sebagai pengawasan social. Di kota pengawasan sosial
lebih formal,pribadi, kurang terkena aturan yang ditegakan dan peraturan lebih
menyangkut dengan masalah pelanggaran.
11.
Pola
Kepemimpinan.
Menentukan
kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kulitas
pribadi dari individu dibandingkan dengan di kota. Keadaan ini disebabkan oleh
lebih luasnya kontak tatap muka, dan individu lebih banyak saling mengetahui
dari pada daerah di kota. Misalnya karena kesalahan, kejujuran, dan
pengalamanya. Kalau criteria ini melekat pada generasi berikutnya maka criteria
penurunan pun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.
12.
Standar
Kehidupan.
Berbagai
alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat pendidikan, rekreasi,
fasilitas agama, dan fasilitas lain akan membahagiakan kehidupan bila
disediakan dan cukup nyata di rasakan penduduk yang jumlah penduduknnya yang
padat. Tersedia dan ada kesangupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut,
sedangkan di desa ternyata tidak demikian, orientasi hidup dan pola berfikir
masyarakat desa yang sederhana dan standar hidup yang demikian kurang mendapat
perhatian.
13.
Kesetiakawanan
Social.
Kesertiakawanan
soial atau kepaduan dan kesatuan pada masyarakat pedesaan dan perkotaan banyak
di tentukan oleh factor-faktor yang berbeda. Pada masyarakat pedesaan kepaduan
dan kesatuan merupakan akibat dari sifat-sifat yang sama, persamaan dalam
pengalaman, tujuan yang sama di mana dari sebagian masyarakat pedesaan
hubunganya pribadinya bersifat informaldan tidak bersifat kontrak social
(perjanjian).
Pada
masyarakat pedesaan ada kegiatan tolong-menolong dan musyawarah yang pada saat
sekarang masih di rasakan meski masi banyak pengaruh dari landasan ideologis
dan ekonomis (padat karya) ke pedesaan. Dasarnya justru ketidaksamaan dan
perbedaan pembagian tenaga kerja, saling tergantung, spesialisasi, tidak
bersifat pribadi dan macam-macam perjanjiannya serta hubungannya lebih bersifat
formal. Pada masyarakat pedesaan ada istilah sambat. Dalam
bahasa sunda nyambet artinya minta tolong. Dalam istilah umum
bahasa Indonesia adalah gotong-royong. Aktivitas ini terlihat dalam menyiapkan
pesta dan upacara pembangunan rumah, perkawinan, khitanan, atau kematian
sifatnya lebih otomatis menjaga nama baik keluarga. Kegiatan ini Nampak pula
dalam system pertanian seperti derep, mengolah sawah secara
bersama-sama secara bergiliran dan sebagainya. Sifat gotong-royong tidak perlu
dengan keahlian khusus. Semua orang dapat mengerjakannya dan merupakan gejala
social yang universal. Inilah yang di katakana jiwa kebudayaan, jiwa musyawarah
Nampak pada masyarakat Indonesia artinya keputusan suatu rapat seolah-olah
merupakan pendirian suatu badan,di mana pihak mayoritas saling mengurangi
pendirian masing-masing, dekat mndekati, sehingga harus ada kekuatan atau tokoh
yang mendorong proses kecocokan dengan dimensi kekuasaan mulai dari persuasi
sampai paksaan.
14.
Nilai
Dan System Nilai.
Nilai
dan sistem nilai di pedesaan dan perkotaan berbeda, dan dapat di amati dalam
kebiasaan, cara dan norma yang berlaku. Pada masyarakat pedesaan misalnya
mengenai nilai-nilai keluarga dalam masalah pola bergaul dan mencari jodoh
kepala keluarga masih berperan.Nilai-nilai agama masih di pegang kuat dalam
bentuk pendidikn agama Aktivitas nampak hidup, bentuk-bentuk ritual agama yang
berhubungan dengan kehidupan atau proses mencapai dewsanya manusia selalu di
ikuti dengan upacara-upacara. Nilai-nilai pendidikan belum merupakan orientasi
bernilai penuh bagi penduduk desa cukup dengan bisa baca-tulis dan pendidikan
agama. Dalam hal-hal nilai ekonomi. Terlihat pada usaha taninya yang masih
bersifat subsistem tradisional. Masih banyak nilai lain yang berbeda dengan
masyarakat kota. Dalam hal ini masyarakat kota bertentangan atau tidak
sepenuhnya sama dengan system nilai di desa.
Komentar
Posting Komentar