TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 6

ILMU SOSIAL DASAR

NAMA           : Achmad Wahyu Nuryawan
NPM             : 10116069
KELAS          : 1KA08



       I.        Masyarakat Perkotaan, Aspek-Aspek Positif dan Negatif

A.    Pengertian Masyarakat
            Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

B.    Masyarakat Perkotaan
Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu. Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata . Kemungkinan-kemungkinan  untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa. Interaksi yang terjal lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

C.    Perbedaan Antara Desa dan Kota
1. Jumlah dan kepadatan penduduk.
2. Stratifikasi sosial.
3. Pola interaksi sosial.
4. Lingkungan hidup.
5. Corak kehidupan sosial.
6. Solidaritas sosial.
7. Mata pencaharian.
8. Mobilitas sosial .


     II.        Hubungan Desa dan Kota

a. Masyarakat tersebut bukanlah 2 komunitas yg berbeda.
b. Bersifat ketergantungan.
c. Kota tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan.
d. Desa juga merupakan tenaga kasar pada jenis pekerjaan tertentu.
e. Sebaliknya, kota menghasilkan barang dan jasa yg dibutuhkan desa.
f.  Peningkatan penduduk tanpa diimbangi perluasan kesempatan kerja berakibat kepadatan.
g. Mereka kelompok para penganggur di desa.


    III.        Aspek Positif dan Negatif

Ø  ­­­Konflik ( Pertengkaran)
Ramalan orang kota bahwa masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang tenang dan harmonis itu memang tidak sesuai dengan kenyataan sebab yang benar dalam masyarakat pedesaan adalah penuh masalah dan banyak ketegangan. Karena setiap hari mereka yang selalu berdekatan dengan orang-orang tetangganya secara terus-menerus dan hal ini menyebabkan kesempatan untuk bertengkar amat banyak sehingga kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa peledakan dari ketegangan amat banyak dan sering terjadi.
     Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar rumah tangga. Sedang sumber banyak pertengkaran itu rupa-rupanya berkisar pada masalah kedudukan dan gengsi, perkawinan, dan sebagainya. 
                                      
Ø  Kontraversi (pertentangan)
Pertentangan ini bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi (pertentangan) ini dari sudut kebiasaan masyarakat.

Ø  Kompetisi (Persiapan)
Sesuai dengan kodratnya masyarakat pedesaan adalah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat sebagai manusia biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif. Positif bila persaingan wujudnya saling meningkatkan usaha untuk meningkatkan prestasi dan produksi atau output (hasil). Sebaliknya yang negatif bila persaingan ini hanya berhenti pada sifat iri, yang tidak mau berusaha sehingga kadang-kadang hanya melancarkan fitnah-fitnah saja, yang hal ini kurang ada manfaatnya sebaliknya menambah ketegangan dalam masyarakat.

Ø  Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan
Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi jelas masyarakat pedesaan bukanlah masyarakat yang senang diam-diam tanpa aktivitas, tanpa adanya suatu kegiatan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi apabila orang berpendapat bahwa orang desa didorong untuk bekerja lebih keras, maka hal ini tidaklah mendapat sambutan yang sangat dari para ahli. Karena pada umumnya masyarakat sudah bekerja keras.


   IV.        Masyarakat Pedesaan

A.    Pengertian Desa
    Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografis, sosial, ekonomi, politik dan kulural yang terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale balik dengan daerah lain. Pola keruangan desa bersifat agraris yang sebagian atau seluruhnya terisolasi dari kota. Tempat kediaman penduduk mencerminkan tingkat penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, seperti iklim, tanah, topografi, tata air, sumber alam, dan lain-lain. Tingkat penyesuaian penduduk desa terjhadap lingkungan alam bergantung faktor ekonomi, social, pendidikan dan kebudayaan.

B.    Hakikat dan Sifat Masyarakat pedesaan
    Masyarakat pedesaan mempunyai sifat yang kaku tapi sangatlah ramah. Biasanya
adat dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat pedesaan masih kaku, tetapi asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayaan maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, sebagai PRT atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berpikir maju dan keluar dari hakikat itu.

C. Sistem Nilai Budaya Petani Indonesia
    Sejarah perjuangan hidup umat manusia hanya akan bermuara pada dua latar belakangbudaya, budaya petani (bertani, berternak dan menangkap ikan sebagai nelayan) dan budayapedagang. Indonesia, secara sadar mentransformasi budaya petani ke dalam budaya industri. Dan budaya itu pula yang menjiwai budaya industrinya. Apa dan bagaimana “budaya petani” dan “budaya pedagang” dapat tergambar dalam kisah sederhana.

D. Unsur – unsur Desa
– Daerah
– Penduduk
– Corak kehidupan
– Unsur gotong royong

F. Fungsi Desa
- Desa sebagai hinterland (pemasok kebutuhan bagi kota).
- Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar bagi perkotaan.
- Desa merupakan mitra bagi pembangunan kota.
- Desa sebagai bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia.


    V.        Urbanisasi dan urbanisme

A.   Urbanisasi
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
Perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni migrasi penduduk dan mobilitas penduduk. Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota, sedangkan Mobilitas Penduduk berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara saja atau tidak menetap. Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lainsebagainya.

ü  Faktor penarik
1.             Kehidupan kota yang lebih modern
2.             Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
3.             Banyak lapangan pekerjaan di kota
4.             Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas

ü  Faktor pendorong
1.             Lahan pertanian semakin sempit
2.             Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3.             Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4.             Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5.             Diusir dari desa asal
6.             Memiliki impian kuat menjadi orang kaya

ü  Keuntungan urbanisasi
1.             Memoderenisasikan warga desa
2.             Menambah pengetahuan warga desa
3.             Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
4.             Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa

ü  Akibat urbanisasi
1.             Terbentuknya suburb tempat-tempat pemukiman baru dipinggiran kota
2.             Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap)
3.             Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
4.             Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan sosial dan criminal

B.     Urbanisme
                        Secara umum, urbanisme adalah fokus pad kota dan daerah perkotaan, geografi, ekonomi, politik, karakteristik sosial, serta efek pada, dan disebabkan oleh, lingkungan dibangun.
 “Urbanisme” dalam arti lebih luas juga akan mencakup studi tentang interaksi antara kota dan pedalaman pedesaan. Tidak ada kota bisa eksis tanpa pedalaman untuk memasok itu, tetapi, karena teknologi komunikasi, pedalaman ini mungkin kurang mudah untuk mengidentifikasi dari itu di pra-industri, masyarakat agraris, dan selanjutnya konsepsi tentang bagaimana pedalaman tersebut berhubungan dengan kota mungkin perubahan sepanjang sejarah. Di Kekaisaran Romawi dan Yunani kuno), misalnya, municipium dan polis dianggap terdiri dari kedua pusat “kota” dan pedalaman, dengan mana mereka membentuk satu kesatuan sosial, politik dan ekonomi terpadu.
Kata ini urbanisme juga digunakan sebagai pelengkap kualitatif dengan deskripsi bentuk berbagai perkotaan dan pedesaan, yakni, urbanisme informal, urbanisme baru, urbanisme mandiri, urbanisme berkelanjutan, urbanisme terpusat atau desentralisasi, urbanisme neo-tradisional, dan urbanisme transisi.


   VI.        Perbedaan masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan.

1.     Lingkungan Umum Dan Orientasi Terhadap Alam.
 Lingkungan hidup pada umumnya merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan prilakunya yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pada dasar suatu lingkungan umum itu terdapat masyarakat yang saling berinteraksi satu sama lainnya dan setiap manusia itu saling membutuhkan satu sama lainya jadi setiap manusia yang tinggal di lingkungan manapun mau itu di desa dan di kota pasti tidak biza hidup sendiri tanpa adanya orang lain.Orientasi terhadap alam tentang pelestarian lingkungan diperdesa dan di kota, bila terjaga dengan baik serta terawat akan menguntungkan bagi kita semua akan tetapi bila sebaliknya kita tidak menjaga dan merawatnya maka kita sendiri juga yang akan mendapatkan imbasnya.

2.     Pekerjaan Atau Mata Pencarian.
Melakukan suatu pekerjaan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan nafkah. Arti pekerjaan ini tidak terbatas pada tugas-tugas kantor. Aktor/aktris, seniman/seniwati, olahragawan, guru, tukang, dan banyak pekerjaan yang lain memandang pekerjaan mereka sebagai jalan untuk membuktikan hidup mereka. Karena itu kita hidup di dunia ini memerlukan biaya yg tidak sedikit maka dari itu setiap manusia di dunia ini untuk mendapatkan biaya yang tidak sedikit itu harus berkerja dengan keras. Kebanyakan matapencaharian masyarakat pedesaan yaitu bertani, tetapi matapencaharian berdagang merupakan pekerjaan sekunder dari pekerjaan yang nonpertanian. Dimasyarakat perkotaan matapencaharian cenderung menjadi terspesialisasi dan spesialisasi itu bias di kembangkan menjadi manager suatu perusahaan,ketua atau pimpinan suatu birokrasi.

3.     Ukuran Komunitas.
Perkembangan ukuran komunitas  dan individu yang dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan daya hidup yang dapat memantapkan dan meningkatkan keadaan sehat.komunitas pedesaaan biasanya lebih kecil deri pada komunitas perkotaan dalam mata pencaharian dibidang pertanian, imbangan tanah pada manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri dan akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya. Tanah pertanian luas bervariasi dan bergantung pada usaha pertaniannuya, tanah yang cukup luasnya sanggup menampung usaha tani dan usaha ternak sesuai dengan kemampuannya,oleh sebab itu komunitas pedesaan lebih kecil dari pada komunitas perkotaan.

4.     Kepadatan Penduduk.
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila di bandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri, Contohnya dalamperubahan permukiman, dari penghuni satu keluarga (individual family) menjadi pembangunan multikeluarga dengan flat dan apartemen seperti yang terjadi di kota.

5.     Homogenitas Dan Heterogenitas.
          Homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri social dalam psikologi, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan prilaku sering Nampak dalam masyarakat pedesaan bila di bandingkan dengan masyarakat perkotaan. Kampong-kampung bagian dari masyarakat desa mengenai minat dan pekerjaan hampir sama, sehingga kontak tatap muka lebih sering dan di kota sebaliknya. Penduduk heterogen terdiri dari orang-orang dengan macam-macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian. Sebagai contoh  dalam prilaku dan juga bahasa penduduk di kota lebih heterogen. Hal ini ada karena adanya daya tarik dari mata pencaharian, pendidikan, komunikasi, dan transportasi,menyebabkan kota menarik orang-orang dari berbagai kelompok etnis untuk berkumpul di kota.

6.     Diferensiasi Sosial.
Keadaan heterogen dari penduduk kota berindukasi pentingnya derajat yang tinggi di dalam diferensiasi sosial. Fasilitas kota, hal-hal yang berguna pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan (tempat tinggal) menyebabkan terorganisasinya berbagai keperluan, adanya pembagian pekerjaan dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. Kenyataan ini bertentangan dengan bagian-bagian kehidupan di masyarakat perdesaan. Tingkat homogenitas alami ini cukup tinggi, dan relative berdiri sendiri dengan derajat yang rendah dari diferensiasi social.

7.     Pelampiasan Social.
Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti “piramida social”, yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida. Kelas menengah ada di antara dua tingkat kelas eksteren dari masyarakat.
Ada beberapa perbedaan “pelampiasan sosial tak resmi” ini antara masyarakat desa dan masyarakat kota:
1.     Pada masyarakat kota aspek kehidupan pekerjaan, ekonomi, atau sosial-politik lebih banyak pelampiasannya di bandingkan masyarakat desa.
2.     Pada masyarakat desa kesenjangan (gap) antara klas eksteren dalam piramida sosial tidak terlalu besar, sedangkan pada masyarakat kota jarak antara kelas eksteren yang kaya dan miskin cukup besar. Di desa tingkatnya hanya kaya dan miskin saja.
3.     Pada umumnya masyarakat pedesaan canderung pada keadaan kelas menengah menurut ukuran desa, sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser ke kota. Kepindahan orang miskin ini di disebabkan tidak mempunyai tanah, mencari pekerjaan di kota, atau ikut transmigrasi.
4.     Ketentuan kasta dan contoh-contoh prilaku yang di butuhkan sistem kasta tidak banyak terdapat, tetapi di Indonesia, khususnya di bali ada ketentian kelas ini. Dalam kitab-kitab suci orang bali, masyarakat terbagi ke dalam empat lapisan yaitu brahmana, satria, waisya, dan sudra. Gambaran sistem klas itu berlaku hanya bagi desa yang masih asli. Istilah dari daerah ke daerah berbeda dan kriteria bersekitar milik tanah pertanian dan tanah perkarangan dan juga rumah, studi-studi yang menggambarkan pelmpiasan di daerah perkotaan masih sedikit sekali tetapi pada umumnya kriteria yang di terapkan adalah pendapatan dan kekayaan.

8.     Mobilitas Sosial.
Mobilitas sosial berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial lainya mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke perkerjaan lainnya, mobilitas teritorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau dari daerah desa ke kota sendiri. Terjadinya peristiwa mobilitas sosial demikian disebabkan oleh penduduk kota yang heterogen, terkonsentrasinya kelembagaan-kelembagaan saling tergantungnya organisasi-organisasi dan tingginya diferensiasi sosial maka mobilitas sering terjadi di kota dibandingkan dengan daerah pedesaan. Hal lain, mobilitas atau perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) lebih banyak ketimbang dari kota ke desa. Tipe desa pertanian dan kebiasaan pindah mempengaruhi mobilitas sosial seperti perpindahaan yang berkaitan dengan mencari kerja ada yang menetap atau tinggal sementara, sesuai dengan musim dan waktu mengolah pertanian. Apabila dibandingkan penduduk kotab lebih dinamis dan mobilitasnya cukup tinggi. Kesemuanya berbeda hal waktu dan arah mobilitasnya. Pergerakan dapat terjadi secara bertahap, baik arahnya secara horizontal ataupun vertical. Kebiasaan ini di desa kurang terlihat, dan di kota lebih memungkinkan dengan waktu yang relative singkat.

9.     Interaksi Sosial.
Tipe interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek kualitasnya. Perbedaan yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan dan perkotaan, di antaranya:
1.     Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka kontak pribadi perindividu lebih sedikit demikian pula kontak melalui radio, televisi, majalah, poster, Koran dan media lain yang lebih sophisticated.
2.     Kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualilatif. Penduduk kota lebih sering kontak tetapi cenderung formal sepintas lalu, dan tidak bersifat pribadi, tepapi melalui tugas atau kepentingan yang lain, didesa kontak social lebih banyak tatap muka, ramah tamah, dan pribadi. Di kota kontak social lebih tersebar di daerah luas melalui perdagangan, perusahaan, industry, pendidikan, agama, DLL.

10.  Pengawasan Sosial.
          Tekanan sosial oleh masyarakat di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah tamah (informal) dan keadaan masyarakatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal, dan nantinya daapat berarti sebagai pengawasan social. Di kota pengawasan sosial lebih formal,pribadi, kurang terkena aturan yang ditegakan dan peraturan lebih menyangkut dengan masalah pelanggaran.

11.  Pola Kepemimpinan.
Menentukan kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kulitas pribadi dari individu dibandingkan dengan di kota. Keadaan ini disebabkan oleh lebih luasnya kontak tatap muka, dan individu lebih banyak saling mengetahui dari pada daerah di kota. Misalnya karena kesalahan, kejujuran, dan pengalamanya. Kalau criteria ini melekat pada generasi berikutnya maka criteria penurunan pun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.

12.  Standar Kehidupan.
Berbagai alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat pendidikan, rekreasi, fasilitas agama, dan fasilitas lain akan membahagiakan kehidupan bila disediakan dan cukup nyata di rasakan penduduk yang jumlah penduduknnya yang padat. Tersedia dan ada kesangupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut, sedangkan di desa ternyata tidak demikian, orientasi hidup dan pola berfikir masyarakat desa yang sederhana dan standar hidup yang demikian kurang mendapat perhatian.

13.  Kesetiakawanan Social.
Kesertiakawanan soial atau kepaduan dan kesatuan pada masyarakat pedesaan dan perkotaan banyak di tentukan oleh factor-faktor yang berbeda. Pada masyarakat pedesaan kepaduan dan kesatuan merupakan akibat dari sifat-sifat yang sama, persamaan dalam pengalaman, tujuan yang sama di mana dari sebagian masyarakat pedesaan hubunganya pribadinya bersifat informaldan tidak bersifat kontrak social (perjanjian).
Pada masyarakat pedesaan ada kegiatan tolong-menolong dan musyawarah yang pada saat sekarang masih di rasakan meski masi banyak pengaruh dari landasan ideologis dan ekonomis (padat karya) ke pedesaan. Dasarnya justru ketidaksamaan dan perbedaan pembagian tenaga kerja, saling tergantung, spesialisasi, tidak bersifat pribadi dan macam-macam perjanjiannya serta hubungannya lebih bersifat formal. Pada masyarakat pedesaan ada istilah sambat. Dalam bahasa sunda nyambet artinya minta tolong. Dalam istilah umum bahasa Indonesia adalah gotong-royong. Aktivitas ini terlihat dalam menyiapkan pesta dan upacara pembangunan rumah, perkawinan, khitanan, atau kematian sifatnya lebih otomatis menjaga nama baik keluarga. Kegiatan ini Nampak pula dalam system pertanian seperti derep, mengolah sawah secara bersama-sama secara bergiliran dan sebagainya. Sifat gotong-royong tidak perlu dengan keahlian khusus. Semua orang dapat mengerjakannya dan merupakan gejala social yang universal. Inilah yang di katakana jiwa kebudayaan, jiwa musyawarah Nampak pada masyarakat Indonesia artinya keputusan suatu rapat seolah-olah merupakan pendirian suatu badan,di mana pihak mayoritas saling mengurangi pendirian masing-masing, dekat mndekati, sehingga harus ada kekuatan atau tokoh yang mendorong proses kecocokan dengan dimensi kekuasaan mulai dari persuasi sampai paksaan.

14.  Nilai Dan System Nilai.
Nilai dan sistem nilai di pedesaan dan perkotaan berbeda, dan dapat di amati dalam kebiasaan, cara dan norma yang berlaku. Pada masyarakat pedesaan misalnya mengenai nilai-nilai keluarga dalam masalah pola bergaul dan mencari jodoh kepala keluarga masih berperan.Nilai-nilai agama masih di pegang kuat dalam bentuk pendidikn agama Aktivitas nampak hidup, bentuk-bentuk ritual agama yang berhubungan dengan kehidupan atau proses mencapai dewsanya manusia selalu di ikuti dengan upacara-upacara. Nilai-nilai pendidikan belum merupakan orientasi bernilai penuh bagi penduduk desa cukup dengan bisa baca-tulis dan pendidikan agama. Dalam hal-hal nilai ekonomi. Terlihat pada usaha taninya yang masih bersifat subsistem tradisional. Masih banyak nilai lain yang berbeda dengan masyarakat kota. Dalam hal ini masyarakat kota bertentangan atau tidak sepenuhnya sama dengan system nilai di desa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN APLIKASI CHAT LINE

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 8

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 7